Berita Hawzah – Kompleks suci Razavi pada tanggal 10 hingga 12 Juli menjadi saksi kehadiran luar biasa dan langka dari para peziarah serta pelayat dari seluruh penjuru Iran dan berbagai negara lain yang datang ke kota suci Masyhad untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah pemimpin syahid dan keluarganya, serta mengikuti rangkaian upacara duka.
Kehadiran jutaan orang selama hari-hari ini merupakan cerminan dari kecintaan dan pengabdian rakyat Iran serta para pejuang kemerdekaan dari negara-negara lain kepada sosok yang —di mata mereka— telah menghabiskan hidupnya di jalan menegakkan keadilan, membela kaum tertindas, dan melawan para penindas.
Jenazah pemimpin syahid beserta keluarganya dimakamkan pada hari Kamis, 10 Juli, di samping makam suci Imam Ali bin Musa ar-Ridha (as). Sejak jam-jam awal, gelombang besar peziarah dan warga sekitar telah hadir di kompleks suci Razavi untuk membaca surat Al-Fatihah, memberikan penghormatan, dan memperbarui ikrar terhadap cita-cita perjuangannya.
Atas perintah Pemimpin Agung, Imam Sayyid Mujtaba Husaini Khamenei, upacara berkabung untuk pemimpin syahid diselenggarakan mulai hari Jumat hingga Minggu malam, 12 Juli 2026, selama tiga malam berturut-turut di Pelataran Nabi Agung (Saww) di kompleks Makam Suci Razavi.
Dalam upacara-upacara tersebut, putra-putra pemimpin syahid, keluarga besar para syuhada, pejabat nasional dan provinsi, perwakilan Wali Fakih di Khorasan Razavi, pengelola Astan Quds Razavi, tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh hawzah, dan agama dari berbagai negara, khususnya Irak, hadir bersama para peziarah dan warga sekitar dari berbagai penjuru Iran dan negara lainnya, serta turut berkabung atas kepergian pemimpin syahid.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh para qari internasional; banyak di antara qari tersebut yang pada tahun-tahun sebelumnya juga telah melantunkan firman Ilahi di hadapan pemimpin syahid.
Setelah itu, para pelantun puji-pujian dan syair-syair terhadap Keluarga Nabi saw (as) membawakan syair-syair duka, sehingga suasana di Pelataran Nabi Agung (saw) terasa penuh dengan nuansa berkabung yang mendalam.
Memperbarui Ikrar terhadap Cita-Cita Pemimpin Syahid
Di samping upacara berkabung, para hadirin dengan meneriakkan slogan-slogan dukungan terhadap front perlawanan dan menyatakan kebencian terhadap musuh-musuh Islam, menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan perjuangan pemimpin syahid.
Bendera-bendera Republik Islam Iran, bendera-bendera merah dengan tema penuntutan darah para syuhada, serta slogan-slogan heroik terlihat di tengah kerumunan besar para pelayat. Suasana di pelataran-pelataran dan ruang-ruang dalam kompleks makam suci Razavi, terutama Pelataran Nabi Agung (Saww), dipenuhi oleh massa yang menekankan kelanjutan jalan perlawanan dan keteguhan menghadapi para penindas (kaum istikbar).
Pada malam Minggu, 12 Juli 2026, malam terakhir upacara berkabung, acara dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur'an dan pembawaan syair-syair ratapan oleh Maitsam Moti'i. Dalam acara tersebut, syair-syair heroik bertemakan kesetiaan kepada cita-cita Asyura, menjaga jalan pemimpin syahid, melanjutkan perlawanan, dan memperbarui baiat kepada kepemimpinan dilantunkan. Para pelayat dengan sambutan meriah dan serentak menegaskan komitmen mereka terhadap jalan ini.
Di beberapa bagian upacara, para hadirin mengangkat tangan dan bersatu dengan pelantun syair untuk menegaskan kelanjutan jalan para syuhada, kesetiaan terhadap cita-cita Revolusi Islam, pembelaan terhadap front perlawanan, dan keteguhan menghadapi musuh-musuh Islam.
Slogan "Mampus Amerika" dan "Mampus Israel" serta pernyataan kebencian terhadap rezim Zionis Israel menjadi slogan-slogan sentral dalam perhelatan megah ini, yang bergema dengan kehadiran luas masyarakat di Pelataran Nabi Agung (Saww).






Komentar Anda